ARIMA sering juga disebut metode
runtun waktu Box-Jenkins. ARIMA sangat baik ketepatannya untuk peramalan jangka
pendek, sedangkan untuk peramalan jangka panjang ketepatan peramalannya kurang
baik. Biasanya akan cenderung flat (mendatar/konstan) untuk periode yang cukup
panjang.
Model Autoregresif Integrated Moving Average
(ARIMA) adalah model yang secara penuh mengabaikan independen variabel dalam
membuat peramalan. ARIMA menggunakan nilai masa lalu dan sekarang dari variabel
dependen untuk menghasilkan peramalan jangka pendek yang akurat. ARIMA cocok
jika observasi dari deret waktu (time series) secara statistik berhubungan satu
sama lain (dependent).
Metode ARIMA menggunakan pendekatan iteratif
dalam mengidentifikasi suatu model yang paling tepat dari berbagai model yang
ada. Model sementara yang telah dipilih diuji lagi dengan data historis untuk
melihat apakah model sementara yang terbentuk tersebut sudah memadai atau
belum. Model sudah dianggap memadai apabila residual (selisih hasil
peramalan dengan data historis) terdistribusi secara acak, kecil dan independen
satu sama lain. Langkah-langkah penerapan metode ARIMA secara berturut-turut
adalah : identifikasi model, estimasi parameter model, diagnostic
checking, dan peramalan (forecasting).
a. Identifikasi
model
Model
ARIMA hanya dapat diterapkan untuk deret waktu yang stasioner. Oleh
karena itu, pertama kali yang harus dilakukan adalah menyelidiki apakah data
yang kita gunakan sudah stasioner atau belum. Jika data tidak stasioner, yang
perlu dilakukan adalah memeriksa pada pembedaan beberapa data akan stasioner,
yaitu menentukan berapa nilai d. Proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan
koefisien ACF(Auto Correlation Function), atau uji akar-akar unit (unit
roots test) dan derajat integrasi. Jika data sudah stasioner sehingga tidak
dilakukan pembedaan terhadap data runtun waktu maka d diberi nilai 0. Disamping
menentukan d, pada tahap ini juga ditentukan berapa jumlah nilai lag residual
(q) dan nilai lag dependen (p) yang digunakan dalam model. Alat utama yang
digunakan untuk mengidentifikasi q dan p adalah ACF dan PACF (Partial Auto
Correlation Funtion / Koefisien Autokorelasi Parsial), dan correlogram yang
menunjukkan plot nilai ACF dan PACF terhadap lag. Koefisien autokorelasi
parsial mengukur tingkat keeratan hubungan antara Xt dan Xt-ksedangkan
pengaruh dari time lab 1,2,3,…,k-1 dianggap konstan. Dengan kata lain,
koefisien autokorelasi parsial mengukur derajat hubungan antara
nilai-nilai sekarang dengan nilai-nilai sebelumnya (untuk time lag tertentu),
sedangkan pengaruh nilai variabel time lab yang lain dianggap konstan. Secara
matematis, koefisien autokorelasi parsial berorde m didefinisikan sebagai
koefisien autoregressive terakhir dari model AR(m).
b.
Estimasi
Setelah menetapkan model sementara dari hasil identifikasi,
yaitu menentukan nilai p, d, dan q, langkah berikutnya adalah melakukan
estimasi paramater autoregressive dan moving average yang tercakup dalam model
(Firmansyah, 2000). Jika teridentifikasi proses AR murni maka parameter dapat
diestimasi dengan menggunakan kuadrat terkecil (Least Square). Jika
sebuah pola MA diidentifikasi maka maximum likelihood atau
estimasi kuadrat terkecil, keduanya membutuhkan metode optimisasi
non-linier(Griffiths, 1993), hal ini terjadi karena adanya unsur moving
average yang menyebabkan ketidak linieran parameter (Firmansyah,
2000). Namun, saat ini sudah tersedia berbagai piranti lunak statistik yang
mampu menangani perhitungan tersebut sehingga kita tidak perlu khawatir
mengenai estimasi matematis.
c. Diagnostic Checking
Setelah
melakukan estimasi dan mendapatkan penduga paramater, agar model sementara
dapat digunakan untuk peramalan, perlu dilakukan uji kelayakan terhadap model
tersebut. Tahap ini disebut diagnostic checking, dimana pada tahap
ini diuji apakah spesifikasi model sudah benar atau belum. Pengujian kelayanan
ini dapat dilakukan dengan beberapa cara.
(1) Setelah
estimasi dilakukan, maka nilai residual dapat ditentukan. Jika nilai-nilai
koefisien autokorelasi residual untuk berbagi time lag tidak berbeda secara signifikan
dari nol, model dianggap memadai untuk dipakai sebagai model peramalan.
(2) Menggunakan
statistik Box-Pierce Q.
(3) Menggunakan
varian dari statistik Box-Pierce Q, yaitu statistik Ljung-Box(LB).
Sama
seperti Q statistik, statistik LB mendekati c2 kritis
dengan derajat kebebasan m. Jika statistik LB lebih kecil dari nilai c2 kritis,
maka semua koefisien autokorelasi dianggap tidak berbeda dari nol, atau model
telah dispesifikasikan dengan benar. Statistik LB dianggap lebih unggul secara
statistik daripada Q statistik dalam menjelaskan sample kecil.
(4) Menggunakan
t statistik untuk menguji apakah koefisien model secara individu berbeda dari
nol. Apabila suatu variabel tidak signifikan secara individu berarti variabel
tersebut seharusnya dilepas dari spesifikasi model lain kemudian diduga dan
diuji. Jika model sementara yang dipilih belum lolos uji diagnostik, maka
proses pembentukan model diulang kembali. Menemukan model ARIMA yang terbaik
merupakan proses iteratif.
d. Peramalan
(forecasting)
Setelah
model terbaik diperoleh, selanjutnya peramalan dapat dilakukan. Dalam berbagai
kasus, peramalan dengan metode ini lebih dipercaya daripada peramalan yang
dilakukan dengan model ekonometri tradisional. Namun, hal ini tentu saja perlu
dipelajari lebih lanjut oleh para peneliti yang tertarik menggunakan metode
serupa. Berdasarkan ciri yang dimilikinya, model runtun waktu seperti ini
lebih cocok untuk peramalan dengan jangkauan sangat pendek, sementara model
struktural lebih cocok untuk peramalan dengan jangkauan panjang (Mulyono, 2000
dalam Firmansyah, 2000.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar